Tuesday, October 30, 2012

KISAH SEEKOR KAMBING DAN 2 REMAJA YANG CANTIK HATINYA

| No comment

Puteri dan Ais merupakan kakak beradik berusia belasan tahun. Mereka berdua tidak ada bedanya dengan anak-anak remaja lainnya mereka suka menonton, bermain dan kegiatan lainnya.  Suatu hari, guru agama di sekolah Puteri menyuruh murid-muridnya untuk membuat karangan tentang berkurban. Ini jadi muasal cerita, jika murid-murid lain hanya sibuk membaca sejarah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, lantas menulis karangan, tetapi puteri tidak langsung menulis melainkan benar-benar memahami kisah tersebut dan sampai tercengang.                             Dia bahkan bertanya kepada orang tuanya, di meja makan, apakah keluarga mereka pernah berkurban. Setelah saling tatap sejenak, orang tua mereka menggeleng, tidak pernah. Ayah mereka buruh pabrik, Ibu mereka karyawan honorer, ibarat gentong air, jumlah rezeki yang masuk ke dalam gentong, dengan jumlah yang keluar, kurang lebih sama, jadi mana kepikiran untuk berkorban. Puteri memikirkan fakta itu semalaman, dia menatap kertas karangannya, bahwa keluarga mereka tidak pernah berkorban, padahal dulu, Nabi Ibrahim taat dan patuh mengorbankan anaknya. Bagaimana mungkin? Tidakkah pernah orang tua mereka terpikirkan untuk berkorban sekali saja di keluarga mereka?
Puteri mengajak bicara kakaknya Ais, mereka bersepakat selama enam bulan ke depan hingga hari raya kurban, akan menyisihkan uang jajan mereka. Puteri memberikan 2.000, Ais memberikan 3.000 per hari. Enam bulan berlalu, mereka berhasil mengumpulkan uang 1,1 juta rupiah. Menakjubkan. mereka harus mengorbankan banyak kesenangan lain. Enam bulan berlalu, dua minggu sebelum hari raya kurban, mereka punya uang 1,1 juta. Senang sekali Puteri dan Ais akhirnya membawa uang tabungan mereka ke counter tebar hewan kurban. Uang lembaran ribuan itu menumpuk, lusuh, kusam, tapi tetap saja uang, bahkan aromanya begitu wangi jika kita bisa mencium ketulusan dua kakak-adik tsb. Mereka berdua tidak pernah bercerita ke orang tua soal kurban itu. Mereka sepakat melupakannya, hanya tertawa setelah pulang, saling berpelukan bahagia. Dua bulan kemudian, saat laporan kurban itu dikirim lembaga amil zakat tersebut ke rumah, Ibunya yang menerima, membukanya–kedua anak mereka lagi main ke rumah tetangga ibunya berlinang air mata, foto-foto tempat berkurban, dan plang nama di leher kambing terpampang jelas, nama Ibunya. Itu benar, dua kakak-adik itu sengaja menulis nama ibunya karena mereka ingin membahagiakan kedua orang tuanya. Tapi di atas segalanya, dua kakak-adik itu secara kongkret menunjukkan betapa cintanya mereka terhadap agama ini.
Mereka bukan memberikan sisa-sisa berkorban, mereka menyisihkannya dengan niat, selama enam bulan. Itulah kurban pertama dari keluarga mereka. Sesuatu yg terlihat mustahil, bisa diatasi oleh dua remaja yg masih belia sekali. Besok lusa, jika ada tugas mengarang lagi dari gurunya, Puteri tdk akan pernah kesulitan, karena sejak tahun itu, Ibu dan Ayah mereka meletakkan kaleng di dapur, diberi label besar-besar: "Kaleng Kurban" keluarga mereka.

Tags : ,

No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas komentar anda

BERITA TERBARU

Join Twitter

Like Facebook

Popular Posts

APP BAZMA FOR ANDROID