Thursday, June 26, 2014

BAGAIMANA JIKA RAMADHAN INI YANG TERAKHIR BAGI KITA..???

Saat Ramadhan tahun lalu, mungkin ada diantara orang-orang yang kita kenal masih hidup pada saat itu, namun untuk Ramadhan kali ini, orang tersebut telah tiada, jasadnya telah berkalang tanah kubur.      
    
Sebagaimana orang tersebut dan begitulah manusia keseluruhan, kitapun tidak punya jaminan bahwa Ramadhan tahun depan kita akan dapati lagi. Bahkan kita pun tak punya jaminan bahwa kita bisa merayakan hari Raya idul fitri bersama keluarga tercinta. Ingatlah saudaraku, bahwa ajal tidaklah mengenal tua ataupun muda, sehat ataupun sakit. Jika telah sampai pada batas yang ditentukan Allah Azza wa Jalla maka tidak ada yang bisa mengundurkan ataupun memajukannya. 

Walaupun kita berharap bahwa tahun depan kita dipertemukan lagi dengan bulan Ramadhan, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa ini adalah Ramadhan terakhir buat kita.
Jika demikian dengan apa kita menghabiskan bulan yang penuh berkah ini? Masihkah ada waktu untuk lalai? Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan bahwa jika melaksanakan shalat maka anggaplah seakan-akan shalat itu sebagai shalat yang terakhir. Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Ingatlah akan kematian dalam shalatmu karena jika seseorang mengingat kematian dalam shalatnya tentu lebih mungkin bisa memperbagus shalatnya dan shalatlah sebagaimana shalatnya seseorang yang mengira bahwa bisa shalat selain shalat itu. Hati-hatilah kamu dari apa yang membuatmu meminta ampunan darinya.” (HR. Ad-Dailami). 


Abu Ayyub Al-Anshari
radhiyallahu ‘anhu berkata, seseorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Nasihati aku dengan singkat.” Beliau bersabda,“Jika kamu hendak melaksanakan shalat, shalatnya seperti shalat terakhir dan janganlah mengatakan sesuatu yang membuatmu minta dimaafkan karenanya dan berputus asalah terhadap apa yang ada di angan manusia.” (HR. Ahmad). 
Dengan menganggap shalat kita sebagai shalat terakhir akan membuat kita semakin khusyuk. Iya, Anda bisa bayangkan bagaimana shalat orang yang tahu bahwa sebentar lagi ia akan dieksekusi oleh algojo! Apakah ia shalat dengan lalai tanpa menghadirkan hati atau ia akan shalat dengan sepenuh hati?     
     
Tentu saja ia akan shalat dengan se-khusyuk mungkin, ini adalah detik-detik terakhir ia merasakan nikmatnya berdiri, rukuk dan sujud di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kesempatan terakhir itu adalah kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan. Ia akan diisi dengan semaksimal mungkin. Sebagaimana pada haji Wada' (perpisahan), di Padang Arafah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dikelilingi para sahabat yang juga berhaji pada saat itu, beliau menyatakan bahwa seakan-akan ini adalah pertemuan terakhir dengan mereka dan tidak ada lagi pertemuan seperti itu dengan beliau setelahnya dan selamanya.


Maka para sahabat pun tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, mereka dengan penuh antusias mendengarkan nasehat yang merupakan khutbah yang sangat panjang dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.  Tentu saja perumpamaan tersebut bisa kita bawa dalam menjalani Ramadhan. Anggap saja ini adalah Ramadhan terakhir buat kita.
Jika ini Ramadhan yang terakhir bagi kita, kenapa kita tak bersemangat berpuasa? Kenapa enggan untuk shalat berjama'ah? Kenapa shalat tarwih kita alihkan ke Mall? Kenapa berat untuk tadarrus al-Qur'an? Kenapa pelit untuk sedekah? Kenapa masih diisi dengan maksiat? ‘Cambuklah' jiwa kita dengan kata
“Mungkin ini adalah Ramadhan terakhir bagiku!”  Sumber : http://alfathonah.blogspot.com


Tags :

BERITA TERBARU

Join Twitter

Like Facebook

Popular Posts

APP BAZMA FOR ANDROID